Minggu, 07 Maret 2010

:: Catatan Perjalanan Untuk Diana ::


Serakan Artefak di Situs Sunan

Disaat gundah gulana religi menjadi penawar. Napak tilas perjalanan sufi di Bumi Wali pun menjadi pilihan.

Malam belum masuk dinihari, ketika bus antarkota antarprovinsi membawaku ke luar terminal bus Semarang. Penumpang tak sampai separo, ketika akan ke luar ibukota Jawa Tengah itu seorang perempuan muda menghentikan laju bus. Dari kaca samping tampak perempuan bercelana jeans itu, diantar seorang temannya.

Sebagai lelaki berdedikasi tinggi aku pun berdiri. Kusilahkan gadis berambut lurus berkaca mata minus itu duduk di kursi kosong sebelahku. Wangi tubuhnya tercium dari dekat. Ramah dan bersahaja sang perempuan muda menempati kursi kosong, setelah tas punggung di angkat. Tas sarat perangkat reportase, mulai tustel SLR hingga laptop. Tak ketinggalan pula peralatan mandi yang setia menemaniku.

Bus pun kembali berjalan diiringi musik Campursari, kesukaan sang pengemudi bus. Lirih namun nyaring, irama Campursari menemani perjalanan. Gerak kepala sang supir yang mengikuti irama lagu Sewu Kuto, menjadi simbul gandrungnya pria berambut cepak itu terhadap lagu-lagu Didik Kempot.

”Adek mau kemana?” sapaku membuka kebisuan.

”Ke Surabaya Mas. Mas sendiri mau kemana?” jawab ramah perempuan berbaju merah kotak-kotak putih dan biru maron yang dipadu celana jeans abu-abu cerah. Di lehernya yang bersih dan jenjang terlilit sleyer hijau bermotif batik.

”Saya nanti turun Tuban,”

”Kemarin saya bareng teman, menginap semalam di rumahnya,” katanya. Komunikasi pun terjadi dua arah tanpa sekat. Ia masih kuliah di Jogjakarta. Dalam liburan ini, ia pulang ke Surabaya. Di bilangan Wonokromo. Tak jauh dari RSI Surabaya.

”Nama saya Diana, Mas,” katanya menyambut telapak tanganku. Kami pun saling bertegur ramah bagai karib lama. Besar minat dia tentang daerah-darah wisata. Terlebih untuk wisata religi yang terbungkus beragam kultur Islami.

Diana juga mengungkapkan, sudah beberapa kali mengikuti perjalanan ziarah bersama kawan kuliahnya. Besar minat dia terhadap nilai-nilai syiar dari para wali, hingga dia rencanakan pula bakal membuat studi di tugas akhir kuliahnya tentang para sunan. Dan hanya Tuban yang dikenal terdapat banyak makam wali yang belum ia singgahi.

Musik campursari yang diputar berulang-ulang terhenti, ketika bus memasuki wilayah Kragan, Kabupaten Rembang. Tak ada kantuk diantara kami. Tak sejengkal pun waktu terbuang, untuk saling menyapa. Ada asa yang menggantung. Ada hasrat untuk bersama. Bilur-bilur keramahan kami ukir, dalam perjalanan malam.

Tak ada lintas sahwati. Kutanggalkan jaket kuselimutkan ke tubuh mungil di sampingku. Entah apa yang menggerayangi batinku. Yang pasti tak rela jika Diana kedinginan karena lobang AC di atas tempat duduk kami, tak bisa dikecilkan volumenya.

Pagi telah tersenyum, ketika bus memasuki rumah makan di tepi pantai Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Kami makan satu meja. Bola bening mata di balaik kaca mata putih selalu mencuri pandang, diantara rambutnya yang luruh di pipinya. Sinar kemerahan dari timur, makin mematangkan wajah beningnya. Di rumah makan ini pula kami saling bertukar nomor handphone.

Kami tersadar. Rumah makan ini sebagai pemberhentian terakhir bus. Kami pun bertukar kenangan. Kupakaikan lagi jaketku padanya. Sementara jemari lentiknya meloloskan sleyer dari lehernya. Sesaat berikutnya dipakaikan sleyer beraroma parfum sedap itu ke leherku.

”Jika selesai di Tuban, ke Surabaya ya Mas. Saya tunggu di rumah,” demikian pesan Diana, saat melepasku turun dari bus di Alun-alun kota Tuban. Erat digenggam tanganku seakan tak rela terlepas. Jemarinya yang lentik terasa kerasan di genggaman. Kokoh namun lembut. Sarat harmoni terpendam.

Adek manis, besar harapku perjalanan panjangku di Bumi Ronggolawe ada kau di sampingku. Kusadari begitu tebal agenda hidup yang musti kau lakoni. Dan masih panjang pula deretan situs religi di Bumi Wali yang musti kusinggahi.

Astana Bonang

Masih pagi Tuban terasa gerah. Khas daerah pesisir utara yang dilingkupp gugusan bukit kapur. Angin bertiup tak kencang, ketika kakiku menjejak pertama di makam Sunan Bonang, di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Tuban. Makamnya berada di belakang masjid jami’ sisi barat alun-alun kota.

Makam ini, telah dicagarkan pemerintah sehingga patut dijaga kelestariannya. Di beberapa sudut dinding kompleks makam wali bernama asli Makdum Ibrahim itu, terdapat beberapa ornamen kuno. Tampak jelas di sisi kiri dan kanan gapura masuk kompleks makam di ujur timur Kutorejo Gang 4 Tuban itu.

Adik manis, di sepanjang jalan setapak masuk gang berderet di kanan kiri para penjaja sovenir. Semuanya didominasi perangkat ibadah. Mulai kitab, tasbih, sajadah, mukena dan sarung dan kopyah. Barang-barang ini berjejer dan bahkan ada yang tertindih kaus dan baju bercorak batik Gedhok. Batik warisan leluhur orang Tuban yang dulu diagem para petinggi kadipaten yang semasa kerajaan Majapahit dipimpin Adipati Ronggolawe.

Ada dua gapura masuk kompleks makam. Lepas dari gapura pertama, aku masuk pelataran luar makam. Di sisi kiri ada masjid Astana, bagian kanan jalan ada tempat peristirahatan khusus untuk peziarah. Menurut, Fahrur Rozi, salah satu pegiat wirid di makam Sunan Bonang, masjid Astana merupakan tinggalan dari Makdum Ibrahim. Masjid kecil itu sudah dipugar di sana-sini, namun masih saja mengirimkan aura magis.

”Oleh karena itu, kurang afdol jika berziarah tidak menikmati kontemplasi di masjid Astana,” ujar Fahrur Rozi yang demikian sabar menjelaskan kepadaku.

Semasa mediang hidup, Bonang merupakan tokoh yang suka pluralitas. Sama dengan syiar yang sering dia lakukan. Dan itu terbukti dengan tempelan piring dan lepek berornamen negeri China, tertancap di sisi kanan dan kiri gapura kedua. Piranti tersebut, ungkap M Lutfi, merupakan buah tangan dari sahabat-sahabat Bonang dari negeri China. Kemudian disusun rapi di gapura, sebagai simbul penerimaan faham dan keyakinan lain dari pribadi bijak Sunan Bonang.

Adek manis, banyak yang diungkapkan para pengelola makam kepadaku. Termasuk sejumlah kayu dan benda-benda purbakala lain dari kompleks makam yang kini tersimpan rapi di Museum Kambang Putih, sekitar 30 meter ke timur laut dari sentra makam.

Udara sejuk dan aroma wangi menyergab begitu langkah kaki mendekati cungkup. Makam yang disakralkan namun selalu ramai peziarah ini begitu tentram. Gema para musafir berdzikir dan wirid di makam. Terik di luar, namun damai penuh kesejukan di dalam. Mungkin itu yang khas dari makam wali.

”Mumpung di Tuban, Anda harusnya ziarah juga ke makam Sunan Bejagung,” pesan Fahur Rozi setelah lama berbincang di dalam masjid Astana. Tokoh ini memiliki kharomah yang sulit dicontoh oang lain. Saban sore, semasa hidupnya, menyalakan lentera di Masjidil Haram, Makkah. Untuk kabar ini, saya menerima dari mulut ke mulut dari orang Tuban. Tentunya para pegiat ziarah.

Pendapa Bejagung

Makam Sunan Bejagung, sekira 4 Km arah selatan dari makam Sunan Bonang. Pusara tokoh yang lahir dengan nama Muhdin Asyari ini, begitu damai di kelilingi pohon asem, jati dan pohon panggang. Rindang pepohonan menjadikan makam wali ini demikian menentramkan.

Di pintu masuk kompleks makam Sunan Bejagung, aku singgah sejenak di pendapa makam. Pendapa bertoang jati ini beratap welit. Anyaman daun siwalan yang ditata sedemikian rupa ini menaungi pendapa. Ada dua pendapa mengapit jalan masuk menuju gapura pintu masuk yang menghdap ke timur.

”Sesuai pesan Mbah Sunan Bejagung, dua pendapa ini tidak boleh diplester atau dikeramik,” kata Mbah Rawan (67), salah satu penjaga makam yang aku temui di pendapa beralas tanah itu.

Pendapanya khas, genteng welitnya menjuntai hingga setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah. Sehingga orang dewasa yang akan singgah musti merunduk. Sangat harmoni dengan alam, pendapa tak berdinding sehingga angin utara sejuk difilter dedaunan masuk ke ruang pendapa. Pendapa sisi utara adalah tempat istirahat dan peremuan peziarah perempuan. Sementara yang bagian selatan untuk peziarah pria.

Konon pendapa tersbeut sebagai tempat Mbah Muhdin Asyari melakukan halaqoh dengan warga. Di situ pula sang sunan menempa para santri dan cantrik berbagai ilmu agama dan kanuragan.

Tak lama menikmati hembusan angin di pendapa, Mbah Rawan mengantarku ke dalam kompleks makam. Keluar dari pendapa, aku baru melintas ke gapura pertama. Jalannya setapak namun bersih. Begitu masuk kedalam, laku berjalan lagi sekitar 12 meter berbelok ke utara. Di sana ketemu gapura lagi. Gapura kecil setinggi 1 meter dan kemudian disusul gapura yang hanya bisa dilewati satu peziarah. Itupun ada daun pintu kupu tarung dari jati lawas dengan gantungan kunci kuno.

Selanjutnya diteruskan menuju gapura lagi. Gapura terakhir sebelum bisa sowan ke makam Sunan Bejagung. Bangunannya sangat sederhana, namun artefak yang menempel di dinding gapura dan keaslian pendapa, menjadi magnet tersendiri. Terlebih bagi pengagum keindahan warisan leluhur.

”Paling ramai dikunjungi peziarah ketika hari Jumat Wage,” kata Mbah Rawan. Biasanya, mulai hari Kamis ribuan peziarah hadir, karena malam harinya (malam Jumat Wage), ada selametan dan pengajian.

Selain hari itu makam ini banyak disakralkan. Tak sedikit orang bernadzar akan menyembelih hewan mulai sapi, kambing dan ayam, ketika berziarah. Saat keinginannya terkabul, mereka kembali datang melaksanakan nadzarnya. Biasanya tumpengannya juga di pendapa. Yang memasak juga kaum pria pengelola makam. Apalagi di sisi utara pendapa, terdapat dapur umum yang kusus melayani penadzar.

Sayang sekali Adek tidak ada. Padahal bentuk bangunan gapura dan pendapa yang sederhana namun bersahaja ini, sangat Adek rindukan. Sesuai ceritamu di atas bus kemarin. Sebenarnya banyak yang bisa diambil dari kompelks makam Sunan Bejagung. Ritus-ritus bernuansa religi terasa kental di kompleks kuburan ini.

Sayang pula aku datang ketika Ramadhan. Jika tidak bulan puasa, sepanjang jalan menuju makam berjejer penjual makanan dan minum. Kata Imam Syafii, dari Dusun Besaran, Desa Bejagung ada yang khas dari minuman di kompleks makam ini. Yakni, es buah siwalan yang dipadu dengan santan dan gula aren. Gula yang dihasilkan dari tetesan manggar bunga siwalan.

Adek manis, matahari telah berada di ubun-ubun, ketika seorang muadzin memanggil manggil untuk Sholat Dhuhur. Aku dan Mbah Rawan juga langsung ke tempat wudhu yang terbuat dari gentong. Airnya diambilkan dari sumur tinggalan Sunan Bejagung. Air sumur ini begitu berharga karena saat pembuatan sumur, sang sunan hanya menancapkan sebatang tongkat. Setelah dicabut ke luar airnya.

Selepas sholat di masjid sisi timur makam, aku meninggalkan makam Waliulloh tersebut. Tak lama menunggu di jalan poros kecamatan Tuban – Semanding, rombongan dokar muncul dari arah pemandian Bektiharjo, Semanding. Ramah penarik dokar menyapa. Setelah tawar menawar, tak sampai Rp 5.000 sekali jalan, aku minta diantarkan ke penghentian bus arah Surabaya.

Lepas dari wilayah Kecamatan Semanding, masuk ke wilayah Kecamatan Kota. Dokar dengan kuda yang sehat terus melaju menyusuri jalan Pantura. Jalan yang dulu dibangun Gubernur Jendral Daendels ini begitu panas. Angin kencang demikian terik, menjilat-jilat wajahku. Kututup wajahku dengan surban putih yang kubeli dari kompleks makam Sunan Bonang. Sekira 30 menit perjalanan, sudah terlihat bus antarkota menunggu penumpang.

Sayangnya, ketika akan naik bus ke Surabaya phonselku berdering. “Jika sudah selesai dari Tuban, balik saja ke Semarang,” demikian pesan singkat redakturku. Dengan berat hati, akupun balik ke arah barat. Menuju Semarang. Melintas jalan yang semalaman kulalui bersamamu. *) teguh budi utomo


Tuban, diawal Maret 2010.
Olá! Se você ainda não assinou, assine nosso RSS feed e receba nossas atualizações por email, ou siga nos no Twitter.
Nome: Email:

0 komentar: